Senin, 13 Februari 2012

TIPS HIDUP SEHAT

1. Minum air putih sebanyak mungkin.
Minumlah air putih minimal 5 sampai 8 gelas perhari akan membuat Anda terhindar dari berbagai penyakit.Diantaranya tekanan darah tinggi,diabetes,sakit perut akibat maag dan sebagainya.
sayur
2. Perbanyak kandungan serat.
Perbanyak kandungan serat dalam tubuh. Selain melancarkan pencernaan,karbohidrat dalam makanan kaya serat seperti sayur dan buah akan meningkatkan energi Anda tanpa menambah kadar lemak dalam tubuh.
jogging
3. Olahraga secara teratur.
Olahraga secara teratur selain dapat membakar lemak dan kalori berlebihan dalam tubuh,olahraga juga dapat mengendurkan otot yang kencang serta menghilangkan stres.
sleep
4. Cukup Tidur.
Saat tidur tubuh akan beristirahat dengan total. Maka jika waktu tidur berkurang,otoamtis tubuh akan lemas dan gampang terserang penyakit.
smile
5. Banyaklah tertawa.
Percaya atau tidak,tertawa merupakan obat yang cukup
ampuh melawan penyakit ! Pikiran yang positif dan bahagia dapat mempengaruhi Anda baik secara mental dan fisik. Semakin bahagia Anda maka semakin jauh penyakit datang menyerang.

http://matabidadari.xtgem.com/Text/Tips_Sehat

Minggu, 12 Februari 2012

TURUNNYA TROMBOSIT TIDAK SELALU DEMAM BERDARAH

oleh : Redaksi [ 2008-03-08 01:44:43 ]
Penyakit demam berdarah (DB) tidak selalu dari rendahnya trombosit didalamdarah.Sebab, menurunnya trombosit tidak selalu disebabkan oleh demaberdarah,tetapibisajuga penyakit lain, seperti demam tifoid atau chikungunya. Pemeriksaan yang dilakukan adalah:
1. tes hematorkit untuk mengetahui kekentalan darah,
2.tes trombosit,
3.tes hemoglobin,
4.leukosit dan serologi dengue.
 Sebab pada saat terinfeksi virus dengue tidak harus ditandai dengan turunnya trombosit, tetapi bisa dilihat dari turunnya leukosit."

 
pemeriksaan peninjang lainnya seperti : hati, ginjal, dan kadar gula darah pada diri pasien yang terkena virus dengue. Pada pasien dewasa perlu melakukan pemeriksaan lebih komplit lagi, seperti pemeriksaan hati, tes diabetes maupun ginjal. Sebab, virus dengue bisa menyerang sel-sel hati sehingga perlu juga mengecek fungsi hatinya. Ginjal pun harus diperiksa mengingat orang yang diberi cairan dalam pengobatan jangan sampai mengganggu fungsi ginjalnya. Kalau ginjalnya bermasalah, kemudian dokter memberikan cairan sebanyak-banyaknya bisa menyebabkan mampet karena tidak bisa dikeluarkan dari ginjal. Bisa jadi nantinya akan terkena gagal ginjal.

Penderita diabetes yang terkena DB pun harus ekstra hati-hati dalam pemberian cairan. "Sebab, daya tahan tubuh penderita diabetes gampang lemah dan pemberian cairan infus yang kandungannya terdapat gula bisa menaikkan kadar gula dalam darah. Bila ada pasien yang menderita diabetes terkena DB, perlu penatalaksanaan yang berbeda dan harus hati-hati.Bagi mereka yang tidak memiliki komplikasi penyakit lainnya, pemberian cairan, baik air mineral, minuman isotonik, atau jus jambu merah tidak masalah agar pasien tidak menjadi mual dan meningkatkan jumlah cairan di dalam tubuh.

 Seseorang yang pernah terkena DB dan pada tahun berikutnya kembali terserang harus hati-hati. "Sebab, seseorang yang terinfeksi virus dengue lebih dari satu kali, maka reaksi pada serangan kedua atau ketiga jauh lebih hebat dari yang pertama."
Transfusi trombosit hanya diberikan kepada pasien dengan perdarahan yang berat seperti:                                                                                                                 
1.muntah darah,                                                                                       
2.mimisan yang terus-menerus                                                                
3.perdarahan dari saluran cerna bawah berupa BAB berdarah segar.                       
Jumlah trombosit yang rendah bahkan sampai di bawah 20.000 tanpa perdarahan yang signifikan bukan merupakan indikasi untuk diberikan trombosit. Jadi, kadar trombosit yang rendah saja tidak memerlukan transfusi trombosit.
Demam berdarah bisa tanpa gejala maupun dengan gejala.                                    
Yang bergejala dibagi 2 :                                                                                        
1.Demam dengue (DD)                                                                                      
2.Dengue Haemorhagic fever (DHF).                                                                       
 Pasien dengan DHF biasanya menunjukkan gejala yang lebih berat dan gejala perdarahan yang lebih jelas. Pasien DHF selalu dihubungkan dengan trombosit yang rendah. Kadar trombosit yang rendah juga menjadi patokan kapan pasien tersebut harus dirawat. Sebenarnya selain trombosit yang rendah adanya darah yang semakin pekat (hemokonsentrasi) ditandai oleh peningkatan hematokrit serta tanda-tanda perdarahan merupakan hal lain yang akan dilihat sebelum memutuskan perawatan pasien di rumah sakit. Pada pasien demam berdarah selain jumlah trombosit yang menurun, fungsi trombosit juga menurun. Trombosit terganggu baik secara jumlah maupun kualitas. Trombosit merupakan salah satu sel darah yang berperan pada keseimbangan proses pembekuan dan perdarahan (hemostasis) di dalam tubuh kita. Gangguan pada trombosit akan meningkatkan terjadinya proses perdarahan.
PENYEBAB TURUNNYA TROMBOSIT
Adanya trombosit yang rendah bukan berarti kita harus meningkatkan trombosit sesegara mungkin. 3 hal yang diduga sebagai penyebab penurunan kadar trombosit di dalam darah yaitu:                                                                                    
1.penurunan produksi trombosit karena penekanan produksi di sumsum tulang,
2.penggunaan trombosit yang berlebihan                                                                    
3.adanya antibodi antitrombosit dalam darah.                                                         
Jika melihat hal-hal yang menjadi penyebab kenapa trombosit turun ini, maka transfusi trombosit yang tidak pada tempatnya justru akan memperburuk keadaan karena akan merangsang proses inflamasi lebih lanjut sehingga penghancuran trombosit akan lebih meningkat.
PERLU CUKUP CAIRAN
Selama perawatan jika tidak terjadi syok atau perdarahan masif, pasien akan mendapat cairan infus berupa cairan kristaloid seperti cairan ringer laktat atau asering untuk menjaga volume cairan dalam pembuluh darah agar tetap baik. Berdasarkan pengalaman dalam merawat pasien dengan DBD, biasanya trombosit akan naik pada hari ke-7 sejak mulai terjadinya demam.
Pada akhirnya, jika penanganan pasien DBD dilakukan sesuai dengan aturan yang ditetapkan, maka komponen darah trombosit dapat diberikan secara selektif. Gunanya agar pada saat benar-benar dibutuhkan, komponen trombosit ini tetap tersedia. Apalagi, transfusi trombosit dibutuhkan juga oleh pasien-pasien dengan kelainan darah yang lain dan juga pasien dengan gangguan liver berat

Rabu, 25 Januari 2012

SEJARAH KEBIDANAN

SEJARAH MASA LAMPAU
Di Mesir kuno, kebidanan adalah pekerjaan perempuan yang diakui, seperti yang dibuktikan oleh papirus yang berasal Ebers 1900-1550 SM. Lima kolom papirus ini berhubungan dengan kebidanan dan ginekologi, terutama mengenai percepatan proses kelahiran dan kelahiran bayi yang baru lahir prognosis. The Westcar papirus, tanggal sampai 1700 SM, termasuk instruksi untuk menghitung perkiraan tanggal kurungan dan menggambarkan gaya yang berbeda kelahiran kursi. Bas relief di kamar kelahiran kerajaan di Luxor dan candi-candi lain juga membuktikan kehadiran berat kebidanan dalam budaya ini.
Kebidanan di Yunani-Romawi kuno meliputi sejumlah wanita, termasuk wanita-wanita tua yang meneruskan tradisi medis rakyat di desa-desa Kekaisaran Romawi, bidan terlatih pengetahuan mereka yang dikumpulkan dari berbagai sumber, dan sangat terlatih perempuan yang dianggap dokter wanita .
Namun, ada karakteristik tertentu yang diinginkan dalam suatu “baik” bidan, seperti yang dijelaskan oleh dokter Soranus Efesus di abad kedua. Dia menyatakan dalam karyanya, Ginekologi, bahwa “orang yang sesuai akan melek, dengan akal tentang dia, memiliki ingatan yang baik, mencintai pekerjaan, terhormat dan umumnya tidak terlalu cacat sebagai indranya regards [yaitu, penglihatan, penciuman, pendengaran ], suara ekstremitas, kuat, dan, menurut beberapa orang, diberkahi dengan jari-jarinya ramping panjang dan pendek kuku di ujung-ujung jarinya. “Soranus juga merekomendasikan bahwa bidan menjadi simpatik disposisi (walaupun dia tidak perlu melahirkan anak sendiri) dan bahwa ia menjaga tangannya lembut untuk kenyamanan ibu dan anak.
Pliny, dokter lain dari zaman ini, bernilai Kemuliaan dan yang tenang dan tak mencolok disposisi dalam bidan.
Seorang perempuan yang memiliki kombinasi fisik, kebajikan, keterampilan, dan pendidikan pasti sudah sulit ditemukan di jaman dahulu. Oleh karena itu, tampaknya telah tiga “nilai” dari bidan hadir di zaman kuno. Yang pertama adalah ahli teknis, yang kedua mungkin telah membaca beberapa teks pada kebidanan dan ginekologi, tetapi yang ketiga sangat terlatih dan cukup dianggap sebagai dokter spesialis dengan konsentrasi di kebidanan.
Bidan yang dikenal dengan berbagai judul di zaman kuno, mulai dari iatrinē, maia, obstetrix, dan MEDICA.
Tampaknya kebidanan diperlakukan berbeda di ujung Timur Laut Tengah baskom sebagai lawan Barat. Di Timur, beberapa wanita maju di luar profesi bidan (maia) dengan yang dokter kandungan (iatros gynaikeios), yang diperlukan pelatihan formal. Juga, ada beberapa traktat kebidanan beredar di kalangan medis dan berpendidikan dari Timur yang ditulis oleh perempuan dengan nama Yunani, walaupun wanita ini sangat sedikit jumlahnya. Berdasarkan fakta-fakta ini, akan terlihat bahwa kebidanan di Timur terhormat adalah profesi yang terhormat perempuan bisa mendapatkan mata pencaharian mereka dan cukup harga diri untuk menerbitkan karya membaca dan dikutip oleh dokter laki-laki. Pada kenyataannya, sejumlah ketentuan hukum Romawi sangat menyarankan bahwa bidan menikmati status dan upah yang setara dengan laki-laki dokter. [5] Satu contoh dari bides yang dikutip dari Salpe Lemnos, yang menulis tentang penyakit wanita dan disebutkan beberapa kali dalam karya Pliny.
Namun, di Romawi Barat, pengetahuan kita tentang cara mempraktekkan bidan datang terutama dari epitaphs penguburan. Dua hipotesis yang diusulkan dengan melihat sampel kecil epitaphs ini. Yang pertama adalah bidan bukanlah profesi yang freeborn keluarga perempuan yang telah menikmati status bebas dari beberapa generasi tertarik; oleh karena itu tampaknya bahwa sebagian besar bidan adalah dari budak asal. Kedua, karena sebagian besar epitaphs pemakaman ini menggambarkan perempuan sebagai dibebaskan, maka dapat diusulkan bahwa bidan umumnya cukup dihargai, dan memperoleh pendapatan yang cukup, untuk bisa mendapatkan kebebasan mereka. Tidak diketahui dari epitaphs ini bagaimana perempuan budak tertentu dipilih untuk pelatihan sebagai bidan. Gadis budak mungkin telah magang, dan kemungkinan besar bahwa ibu mengajarkan anak-anak perempuan mereka.
Sebenarnya tugas para bidan di zaman kuno terutama terdiri dari membantu proses kelahiran, meskipun mereka dapat juga membantu dalam masalah-masalah medis lainnya yang berhubungan dengan wanita jika diperlukan. Sering kali, bidan juga akan memanggil dokter yang akan on-call dengan dia di dalam kasus yang lebih sulit prosedur yang dibutuhkan selama persalinan abnormal dan dalam kebanyakan kasus ia membawa dua atau tiga asisten.
Pada zaman kuno, hal itu percaya oleh kedua bidan dan dokter yang melahirkan normal dibuat lebih mudah ketika seorang wanita duduk tegak. Oleh karena itu, selama proses kelahiran, bidan membawa bangku ke rumah di mana pengiriman berlangsung. Di kursi kursi adalah lubang berbentuk bulan sabit di mana bayi akan disampaikan. Kursi juga memiliki lengan kursi bagi ibu untuk pegang selama pengiriman. Sebagian besar kursi yang telah punggung pasien bisa menekan, tapi Soranus menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus, kursi-kursi asisten backless dan harus berdiri di belakang pasien dan dukungan padanya.
Bidan lalu menghadap pasien, lembut dilatasi dan menarik janin ke depan, sambil memerintahkan para ibu pada pernapasan dan bagaimana untuk mendorong ke bawah selama kontraksi. Asisten membantu dengan mendorong ke bawah pada perut pasien. Akhirnya, bidan menerima bayi, meletakkannya di potongan-potongan kain, memotong tali pusat, dan dibersihkan bayi.
Anak itu ditaburi dengan “halus dan tepung garam, atau natron atau aphronitre” untuk menyerap residu kelahiran , dibilas, dan kemudian bubuk dan dibilas lagi. Selanjutnya, para bidan dibersihkan setiap dan semua hadir lendir dari hidung, mulut, telinga, atau anus. Bidan didorong oleh Soranus untuk menaruh minyak zaitun di mata bayi untuk membersihkan diri setiap kelahiran residu, dan untuk menempatkan sepotong wol direndam dalam minyak zaitun di atas tali pusar. Setelah melahirkan, bidan panggilan pertama dibuat pada apakah atau tidak seorang bayi sehat dan cocok untuk belakang. Dia memeriksa bawaan bayi yang baru lahir cacat dan pengujian yang menangis mendengar apakah atau tidak itu kuat dan ramah. Pada akhirnya, bidan membuat penentuan tentang peluang untuk kelangsungan hidup bayi dan kemungkinan merekomendasikan agar bayi yang baru lahir dengan cacat parah terkena.
Abad kedua terakota Ostian bantuan dari makam Scribonia Attice, istri dokter-dokter bedah M. Ulpius Amerimnus, detail sebuah adegan melahirkan. Scribonia adalah seorang bidan dan lega menunjukkan dirinya di tengah-tengah pengiriman. Seorang pasien duduk di kursi bersalin, mencengkeram pegangan dan asisten bidan berdiri di belakang memberikan dukungan. Scribonia duduk di bangku rendah di depan wanita, merendah memalingkan muka sementara juga membantu pengiriman oleh dilatasi dan memijat leher rahim, seperti yang didorong oleh Soranus.
Jasa bidan tidak murah; kenyataan ini menunjukkan bahwa perempuan miskin yang tidak mampu jasa bidan profesional sering harus membuat hubungannya dengan saudara perempuan. Banyak keluarga kaya memiliki bidan mereka sendiri. Namun, sebagian besar perempuan di dunia Yunani-Romawi sangat mungkin menerima perawatan bersalin dari menyewa bidan, baik yang sangat terlatih atau yang memiliki pengetahuan dasar kebidanan. Selain itu, banyak keluarga memiliki pilihan apakah atau tidak mereka ingin mempekerjakan seorang bidan yang terlatih obat rakyat tradisional atau metode baru proses kelahiran profesional.
Seperti banyak faktor lain di zaman kuno, seringkali perawatan kebidanan berkualitas sangat bergantung kepada status sosial ekonomi pasien.
perspektif sejarah
Pada abad ke-18, sebuah divisi antara dokter dan bidan muncul, sebagai orang medis mulai menegaskan bahwa proses ilmiah modern mereka adalah lebih baik bagi ibu dan bayi daripada kaum-medis bidan.
Pada awal abad ke-18 di Inggris, kebanyakan bayi tertangkap oleh bidan, tetapi pada awal abad ke-19, sebagian besar bayi-bayi yang lahir pada orang-orang berarti memiliki ahli bedah yang terlibat. Sejumlah penelitian baik panjang penuh bersejarah ini pergeseran telah ditulis.
Ilmuwan sosial Jerman Gunnar Heinsohn dan Otto Steiger sudah mengajukan teori bahwa kebidanan menjadi sasaran penganiayaan dan penindasan oleh otoritas publik, karena bidan tidak hanya dimiliki sangat khusus tentang pengetahuan dan keterampilan yang membantu kelahiran, tapi juga mengenai kontrasepsi dan aborsi. [11] Menurut untuk Heinsohn dan Steiger teori, negara modern menganiaya bidan sebagai penyihir dalam usaha untuk terisi kembali benua Eropa yang mengalami kerugian parah tenaga kerja sebagai hasil dari pes (juga dikenal sebagai kematian hitam) yang menyapu benua gelombang, mulai tahun 1348.
Mereka demikian menafsirkan perburuan penyihir sebagai menyerang kebidanan dan pengetahuan tentang pengendalian kelahiran dengan tujuan demografis dalam pikiran. Memang, setelah penyihir perburuan, jumlah anak per ibu meningkat tajam, sehingga menimbulkan apa yang disebut “ledakan penduduk Eropa” modern kali, menghasilkan tonjolan pemuda yang sangat besar yang memungkinkan Eropa untuk menjajah sebagian besar sisa dunia.
http://bidansmart.wordpress.com/2010/01/11/sejarah-kebidanan/

Kamis, 12 Januari 2012

PROFESI BIDAN

Bidan adalah salah satu profesi tertua. Bidan terlahir sebagai wanita terpercaya dalam mendampingi dan menolong ibu dalam melahirkan bayinya sampai ibu dapat merawat bayinya dengan baik. Bidan bekerja berdasarkan pada pandangan filosopi yang dianut keilmuan, metode kerja, standar paraktik, pelayanan dan kode etik profesi yang dimiliki.
Suatu jabatan profesi yang disandang oleh anggota profesi tentu mempunyai ciri- ciri yang mampu menunjukkan sebagai jabatan yang professional. Ciri-ciri jabatan professional adalah :

  1. Pelakunya secara nyata dituntut cakap dalam bekerja,memiliki keahlian sesuai tugas- tugas khusu serta tuntutan jenis jabatannya ( cenderung spesialis )

  2. Kecakapan atau keahlian seorang pekerja professional bukan hasil pembiasaan atau latihan rutin yang terkondisi, tetapiperlu memiliki wawasan keilmuan yang mantap. Jabatan professional menuntut pendidikan

  3. Pekerja profesinal dituntut berwawasan luas sehingga pilihan jabatan serta kerjanya harus disadari oleh nilai-niai tertentu sesuai jabatan profesinya. Pekerja professional bersikap positif terhadap jabatan dan perannya, bermotivasi dan berusaha berkarya sebaik-baiknya

  4. Jabatan professional perlu mendapat pengesahan dari masyarakat atau negaranya. Jabatan profesional memiliki syarat-syarat serta kode etik yang harus dipenuhi oleh pelakunya. Ini menjamin kepantasan berkarya dan sekaligus merupakan tanggung jawab professional.

Bidan sebagai tenaga professional termasuk rumpun kesehatan. Untuk menjadi jabatan professional ,bidan harus mampu menunjukkan ciri-ciri jabatan professional. Syarat bidan sebagai jabatan professional, yaitu :

  1. Memberi pelayanan kepada masyarakat yang bersifat khusus atau spesialis

  2. Melalui jenjang pendidikan yang menyiapkan

  3. Keberadaanya diakui dan diperlukan masyarakat

  4. Mempunyai peran dan fungsi yang jelas

  5. Mempunyai kewenangan yang disahkan atau diberikan oleh pemerintah

  6. Memiliki organisasi profesi sebagai wadah

  7. Memiliki kode etik bidan

  8. Memiliki etika bidan

  9. Memiliki standar pelayanan

  10. Memiliki standar praktik

  11. Memiliki standar pendidikan yang mendasari dan mengembangkan profesi sebagai kebutuhan masyarakat

  12. Memiliki standar pendidikan berkelanjutan sebagai wahana pengembangan kompetensi

Sebagai bidan professional, selain memiliki syarat-syarat jabatan professional bidan juga dituntut memiliki tanggung jawab sebagai berikut ;

  1. Menjaga agar pengetahuannya tetap up to date terus mengembangkan keterampilan dan kemahirannya agar bertambah luas serta mencakup semua asfek peran seorang bidan

  2. Mengenali batas–batas pengetahuan, ketrampilan pribadinya dan tidak berupaya melampaui wewenangnya dalam praktik klinik

  3. Menerima tanggung jawab untuk mengambil keputusan serta konsekuensi dari keputusan tersebut

  4. Berkomunikasi dengan pekerja kesehatn lainnya ( Bidan, dokter dan perawat ) dengan rasa hormat dan martabat

  5. Memelihara kerjasama yang baik dengan staf kesehatan dan rumah sakit pendukung untuk memastikan sistem rujukan yang optimal

  6. Melaksanakan kegiatan pemantauan mutu yang mencakup penilaian sejawat, pendidikan berkesinambungan, mengkaji ulang kasus audit maternal/ perinatal

  7. Bekerjasama dengan masyarakat tempat bidan praktik, meningkatkan akses dan mutu asuhan kebidanan

  8. Menjadi bagian dari upaya meningkatkan status wanita, kondisi hidup mereka dan menghilangkan praktik kultur yang sudah terbukti merugikan kaum wanita.

Tuntutan berat terhadap tugas bidan adalah selalu berhadapan dengan sasaran dan target pelayanan kebidanan, KB dan pelayanan kesehatan masyarakat dengan memperkuat kepercayaan, sikap, ilmu pengetahuan, dan sejumlah keahlian yang telah diterima dan berguna bagi masyarakat. Konsekuensi logis dari semua itu karena kepercayaan, sikap, ilmu pengetahuan, dan keahlian yang bermanfaat dan diterima oleh sebuah masyarakat itu senantiasa berubah. Maka untuk menghadapi masyarakat seperti itu seorang bidan harus bisa mempersiapkan segenap kemampuan dan keahliannya untuk menghadapi segala bentuk perubahan. Proses dinamika masyarakat itulah yang menyebabkan bidan  dapat menjadi agen pembaharu yang mengambil peran besar, dan peran ini akan dapat dimainkan oleh bidan jika atasannya memang mendayagunakannya secara optimal.
Masalah ketenagaan atau bidan merupakan masalah besar yang dihadapi para pemimpin instansi pelayanan kesehatan apalagi jika kaitannya terhadap kebutuhan untuk mengembangkan sumber daya manusia itu ( bidan ) terutama pada saat bertugas di desa pada lingkungan yang memiliki kebudayaan yang sangat beragam ( Wahyuni, 1996 ; 158 ) . Tantangan besar ini umumnya tidak akan bisa dijawab oleh Kepala Puskesmas yang seringkali hanya banyak melontarkan wacana retorik, sebaliknya tidak membuktikan diri memiliki kemampuan kerja profesional ( Gerbang, 2004 ; 47 ).

Muh.Fakhrurrozie, AMK,SKM

 

Selasa, 10 Januari 2012

FILOSOFI KEBIDANAN

TUJUAN FILOSOFI KEBIDANAN
“Memberikan persepsi tentang hal-hal yang penting dan berharga dalam memfasilitasi proses penanggulangan teori dan praktek “
FILOSOFI KEBIDANAN
Dalam kehamilan terdapat konsep psikologis dan perubahan sosial untuk persiapan menjadi orang tua, terutama wanita, asuhan antenatal, memberikan dukungan dan petunjuk serta membantu mereka dalam persiapan menjadi orang tua.
Menurut ACNM ( 1996 ) :
1. Setiap individu mempunyai hak untuk meyakini bahwa setiap individu mempunyai hak untuk merasa aman, mendapatkan pelayanan kesehatan yang memuaskan dengan memperhatikan martabatnya.
2. Bidan meyakini bahwa kehamilan, persalinan merupakan proses yang normal
3. Asuhan kebidanan difokuskan kepada kebutuhan individu, keluarga untuk perawatan fisik, emosi dan hubungan sosial.
4.Klien ikut terlibat dalam menentukan pilihan.
5. Asuhan kebidanan berkesinambungan mengutamakan keamanan, kemampuan klinis dan tanpa intervensi pada proses yang normal.
6. Meningkatkan pendidikan pada wanita sepanjang siklus kehidupan
Menurut Maternity Services Advisory Commite, 1995 :
1.Dalam persalinan melibatkan partisipasi orang tua dan anggota keluarga dalam menentukan asuhan.
2. Pada masa postnatal setiap ibu harus diberi pedoman tentang perawatan bayi dan tenaga penolong.
3. Selama dirawat di RS, ayah dianjurkan utk terlibat dalam merawat bayinya.
8 prinsip dasar yang menggambarkan filosofi kebidanan
v Hubungan antara ibu dan bidan dalam memberikn asuhan yang baik.
v Ibu fokus dalam pemberian asuhan.
v Memberikan pilihan kepada ibu untuk melahirkan.
v Menggunakan seluruh keterampilan bidan.
v Asuhan yang berkesinambungan untuk wanita bersalin.
v Asuhan dasar dalam berkomunikasi.
v Bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan.
v Memberikan asuhan yang ramah pada ibu dan bayinya.
FILOSOFI ASUHAN KEBIDANAN
Prinsif dalam asuhan kebidanan meliputi :
- Memberikan keamanan pada klien (safety)
- Memperhatikan kepuasan klien ( satisfying )
- Menghormati martabat manusia dan diri sendiri ( self determination)
- Mengormati perbedaan kultur dan etnik (respecting cultural and etnic divercity)
- Berpusat pada kontek keluarga
- Berorientasi pada promosi keluarga
Yang diharapkan bidan dalam memberikan asuhan
l Disusun untuk kebutuhan ibu, bayi & keluarganya.
l Didukung dengan perhatian kepada otonomi individu.
l Merencanakan hubungan dengan ibu dan keluarganya.
l Wanita (keluarganya ) berhak secara penuh untuk menentukan dan memutuskan tentang rencana asuhan
l Mempertimbangkan kebutuhan pendidikan yang meliputi : fisik, psikologi, sosial, budaya, spritual dan pendidikan.
l Didasari pada penemuan yang sudah terbukti
l Memberitahu dengan penuh empati,konsekuensi, kepercayaan.
l Mempunyai asuhan pendekatan secara sistematis terhadap penilaian, perencanaan, implementasi dan evaluasi.
hMenyadarkan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan proses yang fisiologis
hMemastikan sistem komunikasi yan efektif antara bidan, wanita dan keluarga serta tenaga kesehatan yang lain
hMengakui pentingnya perawatan yang berkelanjutan dalam ilmu kebidanan

http://hanaast.wordpress.com/category/konsep-kebidanan/

FILOSOFI KEBIDANAN

. DEFINISI FILOSOFI
Filosofi berasal dari bahasa Yunani : philosophy yang berarti menyukai kearifan “sesuatu yang memberikan gambaran dan berperan sebagai tantangan untuk memahami dan menggunakan filosofi sebagai dasar untuk memberikan informasi dan meningkatkan praktek tradisional”.
1.Chinn dan Krammer, 1991
“Suatu disiplin ilmu yang memperhatikan dan menggali dalil-dalil yang ada untuk dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari”
2. Pearson dan Vaugan, 1986
Garis besar filosofi adalah pendekatan berpikir tentang kenyataan, termasuk tradisi agama,aliran yang dianut oleh keberadaa dan fenomena.
Jadi filosofi diartikan sebagai ilmu tentang sesuatu disekitar kita dan apa penyebabnya.
Anggapan tentang filosofi :
  1. Elit
Hanya untuk golongan tertentu, bukan untuk konsumsi umum
  1. Sulit
Beberapa aspek dari filosofi sering dianggap sulit, kompleks dan berbelit-belit.
  1. Obscure
Dianggap sebagai hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan sehari-hari.
  1. Abstrak (tidak jelas)
http://hanaast.wordpress.com/category/konsep-kebidanan/

KONSEP KEBIDANAN

Paradigma Kebidanan adalah suatu cara pandang bidan dalam memberikan pelayanan. Keberhasilan pelayanan tersebut dipengaruhi oleh pengetahuan dan cara pandang bidan dalam kaitan atau hubungan timbal balik antara manusia/wanita, lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan/kebidanan dan keturunan.
  1. Wanita
Wanita /manusia adalah mahluk bio-psiko-sosial-kultural dan spritual yang utuh dan unik, mempunyai kebutuhan dasar yang bermacam-macam sesuai dengan tingkat perkembangannya. Wanita/ibu adalah penerus generasi keluarga dan bangsa sehingga keberadaan wanita yang sehat jasmani dan rohani serta sosial sangat diperlukan. Wanita/ibu adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Kualitas manusia sangat ditentukan oleh keberadaan/kondisi dari wanita/ibu dalamkeluarga. Para wanita di masyarakat adalah penggerak dan pelopor dari peningkatan kesejahteraan keluarga.

2.Lingkungan

Lingkungan merupakan semua yang ada dilingkungan dan terlibat dalam interaksi individu pada waktu melaksanakan aktifitasnya. Lingkungan tersebut meliputi lingkungan fisik, lingkungan psikososial, lingkungan biologis dan lingkungan budaya. Lingkungan psiko sosial meliputi keluarga, kelompok, komuniti maupun masyarakat. Ibu selalu terlibat dalam interaksi antara keluarga, kelompok, komuniti maupun masyarakat. Masyarakat merupakan kelompok yang paling penting dan kompoleks yang telah dibentuk manusia sebagai lingkungan sosial. Masyarakat adalah lingkungan pergaulan hidup manusia yang terdiri dari individu, keluarga kelompok dan komuniti yang mempunyai tujuan dan sistem nilai, ibu/wanita merupakan bagian dari anggota keluarga dan unit dari komuniti.
Keluarga mencakup sekelompok individu yang berhubungan erat secara terus menerus terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan maupun secara bersama-sama. Keluarga dalam fungsinya mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada. Keluarga dapat nmenunjang kebutuhan sehari-hari dan memberikan dukungan emosional kepada ibu yang sedang hamil, melahirkan dan nifas. Keadaan sosial ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan lokasi tempat tinggal keluarga sangat menentukan derajat kesehatan ibu hamil, melahirkan dan nifas
  1. Perilaku
Perilaku merupakan hasil dari berbagai pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahua sikap dan tindakan. Perilaku manusia bersifat menyeluruh (holistik).
Perilaku ibu selama kehamilan akan mempengaruhi kehamilan, perilaku ibu dalam mencari penolong persalinan akan mempengaruhi kesejahteraan ibu dan janin yang dilahirkan. Demikian pula ibu pada masa nifas akan mempengaruhi kesehatan ibu dan bayinya.
Adapun perilaku propesional dari bidan mencakup ;
  • Dalam melaksanakan tugasnya berpegang teguh pada filosofi, etika profesi dan aspek legal
  • Bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan keputusan klinis yang dibuatnya
  • Senantiasa mengikuti perkembangan pengetahuan dan keterampilan mutakhir secara berkala
  • Menggunakan cara pencegahan universal untuk mencegah penularan penyakit dan strategi pengendalian infeksi
  • Menggunakan konsultasi dan rujukan yang tepat selama memberikan asuhan kebidanan
  • Menghargai dan memanfaatkan budaya setempat sehubungan dengan praktek kesehatan, kehamilan, kelahiran, periode pasca persalinan, bayi baru lahir dan anak
  • Menggunakan model kemitraan dalam bekerja sama dengan kaum wanita/ibu agar mereka dapat menentukan pilihan yang telah diinformasikan tentang semua aspek asuhan, meminta persetujuan secara tertulis supaya mereka bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri
  • Menggunakan keterampilan komunikasi
  • Bekerjasama dengan petugas kesehatan lainnya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan keluarga
  • Melakukan advokasi terhadap pilihan ibu dalam tatanan pelayanan
  1. Pelayanan Kebidanan
Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang diarahkan untuk mewujudkan kesehatan keluarga dalam rangka tercapainya keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.
Pelayanan kebidanan merupakan layanan yang diberikan oleh bidan sesuai dengan kewenangan yang diberikannya dengan maksud meningkatkan kesehatan ibu dan anak dalam rangka tercapainya keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.
Sasaran pelayanan kebidanan adalah individu, keluarga dan masyarakat yang meliputi upaya peningkatan, pencegahan, penyembuhan dan pemulihan.
Layanan kebidanan dapat dibedakan menjadi :
  1. Layanan kebidanan Primer ialah layanan bidan yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab bidan.
  2. Layanan kebidanan Kolaborasi adalah layanan kebidanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim yang kegiatannya dilakukan secara bersama-sama atau sebagai salah satu urutan dari sebuah proses kegiatan pelayanan kesehatan.
  3. Layanan kebidanan Rujukan adalah layanan yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke sistem pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya. Pelayanan yang dilakukan oleh bidan sewaktu menerima rujukan dari dukun yang menolong persalinan, juga layanan rujukan yang dilakukan oleh bidan ketempat/fasilitas pelayanan kesehatan lainnya secara horizontal maupun vertikal atau ke profesi kesehatan lainnya. Layanan kebidanan yang tepat akan meningkatkan keamanan dan kesejahteraan ibu serta bayinya.
  1. Keturunan
Kualitas manusia, diantaranya ditentukan oleh keturunan. Manusia yang sehat dilahirkan oleh ibu yang sehat. Hal ini menyangkut penyiapan wanita sebelum perkawinan, masa kehamilan, masa kelahiran dan masa nifas.

http://hanaast.wordpress.com/category/konsep-kebidanan/